Adsense

KONI Kota Tasik, Pengcab Taekwondo dan Orangtua Atlet Saling Bantah Terkait Pembullyan

.

Kota Tasikmalaya, NUANSA POST  
Perseteruan antara KONI Kota Tasikmalaya,  Pengcab Taekwondo Kota Tasikmalaya dan orangtua atlet terkait pembullyan kian memanas. Karena masing masing saling membantah dan mempertahankan argumennya.  Bak bola salju yang semakin lama kian membesar,  kiranya pihak Pemkot Tasikmalaya dituntut segera turun tangan untuk menengahi dan mencari solusi terbaik dalam permasalahan tersebut.
Dalam wawancaranya,  Ketua KONI Kota Tasikmalaya   H.Eddy Supriadi membantah keras jika KONI ikut ikutan membully pelatih dan atlet Taekwondo asal Kota Tasikmalaya, seperti : Alvin Dwi Krisnandi (22), Raisya Azzahra (SMA 2 Kota Tasikmalaya),  Alifia (SMA 2 Kota Tasikmalaya) dan Fauzan (SMA 5 Kota Tasikmalaya).
"Pembullyan atau penjegalan terhadap pelatih dan atlet Taekwondo tersebut, sama sekali tidak benar. Apalagi bagi jajaran pengurus KONI Tasikmalaya tidak ada niat atau upaya sedikitpun untuk menjegal para atlet yang dinilai berprestasi untuk membela Kota Tasikmalaya, " tegas Eddy kepada NUANSA POST Senin (2/9/2019) pagi, diruang kerjanya Kantor Sekretariat KONI Kota Tasikmalaya Jl.Dadaha belakang GOR Susi Susanti Kota Tasikmalaya.
Menurutnya,  pihak KONI dalam menyikapi permasalahan tersebut sangat profesional. Bahkan dirinya saat itu sempat memberikan saran dan masukan kepada para orang tua ketiga atlet Taekwondo tadi untuk mengikuti tahapan dan aturan yang telah ditetapkan dimasing masing cabor (cabang olahraga) dalam hal ini aturan Pengcab Taekwondo Kota Tasikmalaya.
                "Pada Tahun 2017 lalu,  ketiga orang tua atlet ini sempat mengeluhkan dengan rasa kekecewaan dan tidak fair atas penilaian seleksi yang dilakukan Pengcab kepada KONI,  karena ketiga anaknya dinyatakan tidak lolos dari BK (Babak Kualifikasi) PORDA Kota Tasikmalaya. Saat itu para orang tua atlet yang merasa kecewa tadi,  menemui KONI.  Ketika itu saya menyarankan kepada para orang tua atlet tadi agar keluhan dan kekecewaan itu diungkapkan secara tertulis biar resmi dan ditujukan kepada KONI dan Pengcab Taekwondo.  Namun sayang,  saran saya hingga saat ini dua tahun berjalan,   tidak diindahkan oleh para orang tua ketiga atlet tadi, " ucap Eddy kepada wartawan yang ketika itu didampingi para pengurus KONI lainnya.
                Bahkan ,masih kata Eddy,  perpindahan ketiga atlet Taekwondo tadi untuk membela Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Pangandaran pun tidak ada surat tembusan kepada KONI Kota Tasikmalaya."Jadi dalam permasalahan perpindahan ke Kabupaten Ciamis dan Pangandaran, KONI sama sekali tidak ada pemberitahuan secara tertulis dan ketiga atlet serta pelatih tadi juga tidak terdaftar sebagai atlet Taekwondo di Pengcab Kota Tasikmalaya, " terangnya. 
“Jadi bagaimana pihak KONI mau menengahi permsalahan tersebut, jika nama ketiga atlet dan pelatihnya tadi tidak masuk dalam daftar nama atlet di Pengcab Taekwondo Kota Tasikmalaya, “lanjut Eddy.
                "Jadi dalam hal ini,  jika ada atlet Kota Tasik yang berprestasi,  KONI  pasti welcome.  Jangankan 5 atlet yang hilang,  satu pun sayang jika tidak kita raih. Apalagi ada atlet potensial berprestasi tentunya ini asset berharga bagi Kota Tasik, " kata Eddy yang diamini Ketua II KONI Kota Tasikmalaya Bidang Prestasi Eri Jauhari, S. Ag.
                Dalam kesempatan tersebut,  Eri Jauhari menambahkan,  dalam seleksi atlet atlet cabor yang akan tampil dikejuaran seperti PORDA tentunya KONI tidak main main. Ada beberapa tahapan dan prosedur yang harus dilalui oleh para atlet dan pelatih. Apalagi KONI sendiri telah membentuk tim verifikasi dan validasi bagi para atlet atlet cabor yang layak lolos untuk mewakili cabornya masing masing,  tambah Eri.
                "Untuk kejuaraan PORDA misalnya,  hanya atlet atlet yang masuk kategori 5 besar untuk bisa lolos menjadi peserta mewakili kontingen Kota Tasikmalaya. Setelah selesai seleksi BK,  masing masing Cabor melaporkannya kepada KONI. Jadi sesuai tufoksi KONI tidak berhubungan langsung dengan atlet tapi dengan para Cabor dalam hal ini Pengcab, " jelasnya.
                Apalagi saat ini,  KONI Kota Tasikmalaya sejak 2012 sudah tidak menerima AMT (Atlet Mutasi Transfer). "Jadi saat ini di KONI Kota Tasikmalaya tidak ada lagi transfer atlet,  karena yang diutamakan adalah atlet putra daerah dari seluruh cabor yang ada di KONI Kota Tasik," ucap Eddy kembali menegaskan.
                Sementara itu,  Heri Hendarmin Bagian Humas Pengcab Taekwond Kota Tasikmalaya ikut membantah jika ada yang menuding Pengcab Taekwondo Kota Tasikmalaya  membully atlet Taekwondo."Tidak ada pembullyan di Pengcab kami,  kita hanya mengikuti aturan yang berlaku. Ini hanya miss komunikasi saja. Pengcab tak akan menghalang halangi atlet potensial,  kita sangat welcome jika atlet atlet tadi ingin kembali dan membela Kota Tasik," kata Heri didepan para pengurus KONI Kota Tasikmalaya.
Namun Heri meyakini,  secara internal pihak Pengcab Taekwondo mengundang atlet dan para orang tua tersebut untuk bersilaturahmi dengan pengcab.  "Dalam hal ini kitapun akan menjaga marwah organisasi,  apalagi jika ada urusan pribadi lebih baik dibicarakan secara internal. Kitapun selalu berkoordinasi dengan KONI sebagai induk orhanisasi kita," ucapnya.
Pengcab Taekwondo akan welcome terhadap atlet atlet tersebut. Apalagi kita paham,  mereka anak anak muda yang sedang berkembang dan potensial. Jadi jika mereka para atlet tadi ingin pindah ke Kota Tasikmalaya,  Pengcab sekali lagi kami tegaskan akan welcome, ujarnya.
                "Masa kita yang harus datang ke Pengcab Pangandaran dan Ciamis.Jadi merekalah para orang tua dan atlet yang seharusnya datang kepada kami. Jangan ada kesan Pengcab Kota Tasik yang mengemis meminta mereka."  pungkas Heri. 
                Terpisah,  orang tua atlet Taekwondo Raisya Azzahra,  H.Yadin saat disambangi NUANSA POST dikediamannya, Senin (2/9/2019) sore tadi, membantah ucapan Ketua KONI Kota Tasikmalaya yang mengatakan dirinya tidak pamitan ke KONI Kota Tasikmalaya saat putrinya Raisya pindah ke Pangandaran,  dan juga tidak meminta ijin ke Pengcab Taekwondo Kota Tasikmalaya ketika itu.
                Terkait ucapan Ketua KONI Kota Tasikmalaya,  bahwa H.Yadin tidak membuat surat permohonan perpindahan anaknya menjadi atlet Pengandaran,  H.Yadin kembali membantahnya.
"Saat itu memang saya tidak membuat surat ke KONI karena bukan kapasitasnya karena anak anak belum jadi atlet saat itu masih kadet dibawah umur.Namun secara lisan sudah saya sampaikan ke Ketua KONI, " kata Yadin. 
Namun dirinya sempat terekam ucapan Ketua KONI saat itu. "Anak anak kan belum jadi Atlet,  Silahkan saja mewakili Pangandaran,  namun setelah Porda selesai,  kembali lagi ke Kota Tasikmalaya, pokona mah akang ngajaminna" ucap Yadin menirukan kata kata Ketua KONI saat itu.
                Perpindahan atlet ke Pangandaran juga sebetulnya terlebih dahulu sudah minta ijin ke Pengcab Taekwondo Kota Tasikmalaya,  saat itu ke Sekum Taekwondo Pimen dan Galin. Dan ini secara tertulis serta ditembuskan ke Pengda Jabar,  tambah Yadin.
                Menurut H.Yadin permasalahan awal ini muncul pada 2017,  dimana saat itu ada seleksi untuk BK PORDA Kota Tasikmalaya.   Raisya bersama dua temannya Alifia, Farhan Lolos seleksi ditingkat Kota Tasikmalaya,  namun anehnya kenapa tidak bawa ke seleksi tim Pra Porda di Cirebon.
                "Sebetulnya anak kami itu lolos BK di Kota Tasik,  sementara yang tidak lolos seperti Viona,  Bilal  malah dibawa ke seleksi pra Porda di Cirebon,  bagaimana kami tidak kecewa.  Ini rasanya tidak adil bagi kami, " ujar H.Yadin.
                Maka dari rasa tidak adil itu,  anak kami bersama dua atlet lainnya berangkatlah ke Pangandaran dan terima menjadi atlet pangandaran mewakili tim Porda mewakili Pangandaran saat itu.
                Bahkan Yadin sendiri kembali menegaskan pembullyan terhadap Raisya dan dua atlet taekwondo memang pernah terjadi beberapa kali yang dilakukan oleh salah satu pengurus Pengcab Taekwondo berinisial "R". 
                Pembulyan ini terjadi beberapa waktu lalu,   dimana Fauzan salah satu atlet ingin gabung seleksi POPDA di GOR Sindangpalay malah di usir untuk tidak bergabung dengan alasan anak asuhan pelatih Alvin. Pembullyan lain juga terjadi kepada atlet Raisya dan Alifia,  dimana saat PPDB SMA 2 Kota Tasikmalaya beberapa waktu lalu sempat dibully oleh salah satu pelatih yang mengatakan kedua atlet itu bermasalah dengan Pengcab Tarkwondo Kota Tasikmalaya.  Untung saja dengan kesigapan dan dibuktikan prestasinya oleh orang tuanya,  akhirnya kedua atlet ini bisa diterima di sekolah tersebut melalui jalur prestasi.
                Terpisah,  Rachmat Hidayat orang tua dari Alifia berharap kiranya permasalahan ini agar segera clear dan masing masing tidak saling dirugikan."Mudah mudahan Pemkot Tasikmalaya melalui Kabidpora Disporabud bisa memfasilitasi antara para orang tua atlet,  Pengcab dan KONI untuk duduk bersama mencari solusi terbaik tidak merugikan salah satu pihak,  ini demi prestasi atlet Kota Tasikmalaya terutama dari cabor taekwondo, " pungkas Rachmat.  (tono efendi)

0 komentar:

Posting Komentar

PT LINTAS PENA MEDIA

PT LINTAS PENA MEDIA

Direksi PT LINTAS PENA MEDIA

Direksi PT LINTAS PENA MEDIA